Teknologi Nyamuk Wolbachia Suatu Kajian Singkat untuk Mengendalikan DBD dan Malaria di Provinsi Gorontalo

Anggry P. Solihin, SP, M.Sc

Ketika membaca media belakangan ini, seketika saya merasa khawatir. Angka kasus demam berdarah dengue (DBD) dan malaria di provinsi Gorontalo semakin banyak dilaporkan. Di Kabupaten Bone Bolango, dilaporkan 15 kasus DBD dan 1 orang meninggal sejak awal tahun 2024. Di Pohuwato, sebanyak 837 warga terjangkit malaria.

Wabah DBD bisa dikatakan cukup sering terjadi di Provinsi Gorontalo sebelum pandemi Covid-19. Menurut penelusuran informasi yang saya lakukan, wabah DBD di Provinsi Gorontalo terjadi pada tahun 2016, 2018 dan 2019. Ratusan kasus DBD diketahui terjadi dan terdapat korban jiwa pada ketiga waktu tersebut. Apesnya, pada awal tahun 2024 ini wabah DBD dan Malaria terjadi bersamaan. Tak ayal, pemerintah dan tenaga Kesehatan di Provinsi Gorontalo dalam kondisi “siaga 1” dalam menghadapi wabah ini.

​Laporan tentang wabah DBD dan Malaria tersebut memang cukup membuat saya was-was. Mengingat, cara pengendalian kedua wabah tersebut cukup sulit mengingat cara yang paling efektif hanya dengan mengendalikan vektor/nyamuk (preventif) dan pemberantasan sarang nyamuk melalui 3M (promotif).

Disamping itu, ketersedian terapi pengobatan (vaksin dan obat) untuk kedua penyakit tersebut masih cukup terbatas. Ditambah lagi case fatality rate (CFR) DBD yang cukup tinggi (0,93), kondisi klimatologis Indonesia yang sangat cocok bagi perkembangan nyamuk Aedes aegypti dan Anopheles sp. serta resistensi insektisida yang semakin meningkat sehingga pengendalian melalui pengasapan/fogging tidak lagi menjadi pilihan utama oleh Kementerian Kesehatan.

Ditengah kondisi yang pelik ini, secercah harapan muncul. Prof. Adi Utarini dan tim dari FK-KMK UGM beberapa waktu lalu telah merilis hasil penelitiannya yang berhasil menurunkan kasus DBD di Kota Yogyakarta dengan signifikan. Prof. Uut dan tim melakukan pelepasan nyamuk Aedes aegypti yang telah diinokulasi/diinfeksi dengan bakteri Wolbachia ke wilayah dengan kasus DBD tinggi.

Hasilnya, cara ini dapat menurunkan tingkat infeksi DBD sebesar 77 % dan tingkat hospitalisasi sebesar 83 %. Atas hasil penelitiannya ini, Majalah Time menobatkan Prof. Uut sebagai 100 orang yang paling berpengaruh di dunia tahun 2021.

Keberhasilan program pelepasan nyamuk Aedes aegypti yang telah diinfeksi bakteri Wolbachia ini sangat potensial untuk diterapkan di Provinsi Gorontalo. Mengingat peningkatan kasus DBD dan Malaria akhir-akhir ini cukup mengkhawatirkan serta pilihan terapi yang terbatas, penerapan teknologi ini sangat menjanjikan.

Teknologi nyamuk Wolbachia ini dilaporkan ramah lingkungan (tidak menggunakan insektisida kimia), mampu menurunan angka infeksi dan hospitalisasi yang tinggi serta aman bagi manusia/spesies non target. Bahkan, teknologi ini sudah direplikasi di 14 Negara dari berbagai benua di dunia (Asia, Oceania, Amerika).

Memang, beberapa waktu lalu ada beberapa opini negatif terhadap pelepasan nyamuk Wolbachia ini seperti yang disampaikan eks pejabat tinggi negara (eks Menteri Kesehatan dan BSSN). Mereka menyebut, teknologi nyamuk Wolbachia sebagai nyamuk bionik/transgenik yang sangat berbahaya bagi manusia dan lingkungan. Namun, dari penelusuran referensi/hasil penelitian yang ada saat ini, belum ada bukti konkrit yang menerangkan adanya bahaya pelepasan nyamuk Wolbachia bagi manusia dan lingkungan.

Saya berharap, opini negatif tersebut seperti hoax yang beredar diseputar awal-awal program vaksinasi covid-19 lalu. Perlahan namun pasti, hoax ini hilang ditelan bumi, dan syukur Alhamdulillah kita semua selamat dari Pandemi Covid-19 berkat kemajuan teknologi kesehatan yang sangat pesat.

Sebagai penutup, penulis berharap pada masa yang akan datang, semakin banyak kebijakan-kebijakan di Indonesia khususnya Provinsi Gorontalo yang lahir dari pendekatan ilmu pengetahuan dan sains, atau pada istilah lain dikenal dengan evidence based policy. Dengan demikian, arah kebijakan yang lahir dari segala level pemerintahan dapat bermuara pada kemaslahatan masyarakat hingga anak cucu kita nanti. Wallahualam bissawab.

Penulis adalah Akademisi Fakultas Pertanian UNG dan Anggota Perhimpunan Entomologi Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *