oleh

Tragedi 21 Februari, Hari Peduli Sampah Nasional

Jakarta – ligo.id – 16 tahun telah berlalu, dikala itu di saat hujan turun 02.00 WIB, dan semua orang terlelap. Sebanyak 157 orang tewas tertimbun dengan balutan sampah sepanjang 200 meter dengan ketinggian 60 meter.

Harmoni bunyi kerinding telah terdengar, salah satu alat tradisional Sunda dari bambu tertiup, terlihat beberapa warga mengenakan pakain pengsi dan ikat kepala khas sunda siap untuk mengenang kembali peristiwa kelam yang terjadi di Tempat Pembuangan Akhir.

Bunga dan air ditaburkan dititik longsor sebegai tanda penghormatan kepada ratusan warga yang menjadi korban longsor sampah tersebut.

Baca :  RESMI: Presiden Jokowi Cabut Legalitas Produksi Minuman Keras

Perstiwa kelam itu juga mengubur kampung Cilimus dan kampung Pojok yang berada dekat dengan TPA Leuwigajah. Kenangan itu hingga kini masih teringat dengan jelas dan tak akan terlupakan.

Bukan hanya faktor alam saja hal ini terjadi di karenakan manajemen pengelolaan sampah yang buruk.

Akumulasi gas metan dari tumpukan sampah meledak, ditambah derasnya hujan membuat gunungan ribuan ton sampah longsor.

Sejak tragedi memilukan tersebut, pemerintah pun menjadikan tanggal 21 Februari sebagai Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN). Selain itu, warga sekitar juga selalu melakukan upacara adat.

Baca :  Jokowi Apresiasi Kinerja BNPB

Bekas TPA itu ditanami pohon pisang, singkong dan sebagainya. Kondisi yang dulunya tidak terlihat, lantaran ditutupi sampah, sekarang telah kembali hijau dengan kehidupan baru.

Abah Widi para sesempuh Kampung Adat Cireundeu berpesan kepada pemerintah bahwa pengelolaan sampah yang buruk jangan sampai terulang kembali. Cukup hanya jadi cerita anak cucu kelak nanti. (#c)

Baca Juga di : Dipicu Ledakan Gas Metan, Ratusan Warga Tewas Tertimbun Sampah

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *