oleh

POTUS Tarik Pasukan Amerika, Taliban Berkuasa, Terorisme di Indonesia Bangkit?

Jakarta – ligo.id – Baru-baru ini sejumlah petinggi Taliban mengklaim telah menguasai kembali 85 % wilayah Afghanistan. Berkuasanya kembali Taliban dinilai akan memicu terorisme di Indonesia.

Sejak penarikan mundur pasukan NATO yang dipimpin Amerika mulai 1 Mei lalu, pertempuran antara Taliban dengan pasukan pemerintah Afghanistan dibantu sejumlah milisi kecil terus berlangsung sengit.

POTUS (President of the United States) Joe Biden telah memerintahkan untuk menarik mundur pasukan Amerika di Afghanistan sejak 1 Mei lalu, dan diperkirakan akan sepenuhnya selesai pada 31 Agustus nanti.

Seiring penarikan itu, Taliban kembali merebut daerah-daerah strategis dan akhir pekan lalu mengklaim telah menguasai 85 persen wilayah Afghanistan.

Di antara ribuan warga yang selama dua puluh tahun terakhir membantu pasukan Amerika, kini mengkhawatirkan nasib mereka jika Taliban kembali berkuasa.

White House Rabu lalu (14/7) mengumumkan peluncuran “Operation Allies Refuge” atau “Operasi Pengungsian Sekutu” untuk menerbangkan banyak warga Afghanistan yang menunggu Visa Imigran Khusus.

Baca :  Soal Statuta UI: Pak Jokowi, Please Jangan Bikin Kegaduhan Baru

Tujuan evakuasi mereka masih dirahasiakan, tetapi dilaporkan pihak berwenang sedang melangsungkan perundingan dengan negara-negara Asia Tengah, seperti Kazakhstan, Tajikistan dan Uzbekistan sebagai lokasi evakuasi.

Kekhawatiran yang memuncak di Afghanistan juga dinilai akan berdampak ke Indonesia lantaran adanya hubungan Taliban dengan sejumlah tokoh di Indonesia.

“Berkuasanya lagi Taliban di Afghanistan bisa menguatkan kembali kegiatan terorisme di Indonesia karena banyak tokoh di Indonesia yang memiliki hubungan dengan kelompok itu.” kata Ketua Harian Kompolnas, Irjen Purnawirawan Benny Mamoto, dalam diskusi dan peluncuran buku “Pendanaan Terorisme di Indonesia”. Jumat (16/7/2021).

“Sumber keuangannya Taliban yang buat saya sangat serius adalah masalah narkoba. Ingat Para Wijayanto sudah mengirim penghubung ke Afghanistan. Berarti hubungan itu terbangun. JI (Jamaah Islamiyah) sudah sejak tahun 1980-an akhir itu sudah punya hubungan ke Afghanistan, sehingga banyak orang-orang yang dengan mudah membangun komunikasi dan jaringan kembali ke sana,” tutur Benny mencontohkan Para Wijayanto.

Para Wijayanto adalah pemimpin Jamaah Islamiyah, organisasi teroris yang berafiliasi dengan jaringan Al-Qaida yang dibentuk oleh mendiang Usamah Bin Ladin, terlama, yakni sejak 2008 hingga 2019 seperti dilansir voaindonesia.com –jaringan ligo.id-

Lelaki yang memiliki nama samaran Abang alias Aji Pangestu alias Abu Askari alias Ahmad Arief alias Ahmad Fauzi Utomo tersebut ditangkap akhir Juni 2019 di Bekasi, Jawa Barat.

Baca :  Situasi Belum Membaik, Jokowi Perpanjang PPKM Level 4 Hingga 2 Agustus

Dengan latar belakang profesional, lanjut Benny, Para Wijayanto berhasil menjadikan Neo-Jamaah Islamiyah mampu bersaing dengan jaringan ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah)di Indonesia.

Para Wijayanto merupakan salah satu alumnus terbaik asal Indonesia dalam pelatihan militer di Moro, selatan Filipina, dan dinilai sebagai yang terbaik dalam hal intelijen, senjata dan merakit bom. #red/adm.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *