oleh

Email dan Menembak, Cara Hadapi Sentimen Anti-Asia di Amerika

Virginia – ligo .id – Tergerak untuk mengirim email kepada kepala sekolahnya beberapa hari setelah insiden penembakan di kota Atlanta, Pelajar kelas 8 di SMP Smart’s Mill Maryam Barokah, memposting isu mengenai sentimen anti-Asia yang kian meningkat sejak Februari lalu.

Di mana enam di antara delapan korban tewas adalah keturunan Asia. Maryam antara lain menuliskan harapan agar sang kepala sekolah membantu meningkatkan kesadaran para siswa mengenai masalah ini.

Surat itu ditanggapi keesokan harinya dengan pengumuman yang disiarkan sekolah, berisikan penjelasan mengenai rasisme yang dialami warga Amerika keturunan Asia. Sang kepala sekolah juga menegaskan janji untuk mengatasinya jika hal tersebut terjadi di lingkungan sekolah.

Laporan dari Center of Hate and Extremism di California State University mengenai insiden kebencian terhadap warga keturunan Asia di 16 kota besar di AS pada tahun 2019-2020 khusus di kota New York tempat Maryam dan keluarganya tinggal, mencatat laporan mengenai insiden anti-Asia yang termasuk tinggi.

Meski begitu, tidak semua warga kota New York menghadapi atau mengalami langsung insiden anti-Asia, seperti yang disampaikan oleh Christine Saragih, yang bermukim di sana sejak 2005.

“Iya, sejak dulu. Sekarang ini makin terasa. Contohnya, kita ingin menanyakan sesuatu di supermarket, mereka tidak menjawabnya atau meresponsnya dengan baik,” jelasnya.

Christine mengakui ia semakin merasakan dan melihat sendiri betapa orang-orang keturunan Asia sering diremehkan seperti warga kelas dua.

Di tempat kerja, orang-orang keturunan Asia kerap tak dipandang sebelah mata bila tidak berbahasa Inggris dengan lancar.

Menanggapi sentimen dan kekerasan anti-Asia yang meningkat, Christine tidak mengambil langkah khusus selain bersikap lebih berhati-hati. Ia meyakini masih banyak orang baik yang akan menolongnya.

Satu hal yang ia soroti adalah peran media dalam memberitakan kasus semacam ini. Ia berharap media menawarkan solusi bagi masalah ini dan bukannya menggiring opini masyarakat.

Sementara itu, Carina Subagio yang telah menetap di Atlanta, Georgia sejak 2007 mengaku baru merasakan sentimen anti-Asia sejak pandemi virus corona merebak dalam dua tahun ini.

“Gara-gara pas virus corona itu disebut China virus, kan.” kata Carina.

Ia merasa tidak menjadi target karena rasnya, karena menurutnya masih ada saja orang Amerika yang memandang sempit ras Asia hanyalah karena memiliki ciri khas bentuk mata atau warna kulit tertentu.

Ia sendiri tidak memiliki ciri-ciri fisik seperti itu. Kalau pun menjadi target, ia menduga mungkin ini karena ia berhijab.

Namun perempuan yang sebelumnya tinggal di negara bagian Virginia ini mengaku sudah terbiasa membawa pepper spray (semprotan cabai) untuk berjaga-jaga, terutama sewaktu memarkir mobil yang jauh dari tempat tujuannya.

Apa yang dikhawatirkan Carina dan suaminya adalah betapa mudahnya orang membeli senjata api di Amerika. Pasangan Indonesia-Bangladesh ini sendiri telah sejak tahun 2019 berusaha mendapatkan lisensi kepemilikan senjata api.

“Kebetulan ada kelompok di masjid yang berlatih menembak dengan pengajar perempuan dan saya ikut berlatih,” jelasnya.

Setelah pandemi merebak, latihan bahkan terhenti. Begitu penembakan di Atlanta terjadi, Carina diingatkan suaminya untuk mulai berlatih menembak bersama-sama lagi.

Meski unjuk rasa menentang sentimen anti-Asia marak, Carina tidak merasa itu cara terbaik untuk mengatasi masalah. Yang lebih penting baginya adalah bermasyarakat, bergaul baik dengan orang-orang di sekitarnya. #adm/ed

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *