oleh

99 Pengungsi Etnis Rohingya di Aceh Utara Jalani Rapid Test Corona

LIGO.ID – Para pengungsi etnis Muslim Rohingya yang sempat terkatung-katung berhari-hari di lautan karena kondisi kapal yang rusak, akhirnya diketahui nelayan lokal di lepas pantai Seunuddon, Aceh Utara, pada Rabu (24/6).

99 orang Pengungsi etnis Muslim Rohingya yang baru tiba di daratan Aceh Utara pada Kamis (25/6) malam dikhawatirkan membawa wabah virus Corona. Tes cepat virus corona pun langsung dilakukan, hasilnya tak satupun dari mereka terbukti mengidap virus itu, termasuk 30 anak.

Pemeriksaan kesehatan terhadap para pengungsi Rohingya tersebut dikonfirmasi Kabag Humas kabupaten Aceh Utara, Andre Prayuda. Dirinya mengatakan Pemkab Aceh Utara langsung melakukan pemeriksaan kesehatan, termasuk tes cepat virus corona.

“Sudah kita rapid test dan 99 orang itu dalam keadaan non reaktif serta keadaannya sehat,” kata Andre melansir voaindonesia.com –jaringan ligo.id-, Jumat (26/6).

Pemeriksaan kesehatan umum juga dilakukan terhadap puluhan pengungsi tersebut. Hal itu, kata Andre, dilakukan karena beberapa orang di antara mereka dalam kondisi lemah setelah dievakuasi ke pesisir Aceh Utara.

“Hanya beberapa orang sakit mengalami lemas, mungkin kekurangan suplai makanan,” ungkap Andre.

Ke 99 pengungsi etnis Muslim Rohingya tersebut, saat ini ditampung sementara di bekas gedung Kantor Imigrasi, kawasan Punteut, Kecamatan Blang Mangat, Kota Lhokseumawe. Bantuan logistik juga telah diberikan sejumlah pihak kepada para pengungsi itu.

“Dari kemarin mereka sudah di darat langsung kami ungsikan ke bekas kantor imigrasi. Mereka sudah di situ semua untuk sementara ini,” ujar Andre.

Hingga kini, berapa lama keberadaan para pengungsi Rohingya di Aceh Utara masih belum diketahui pasti. Pemkab Aceh Utara juga masih mencari tahu ke mana tujuan para pengungsi Rohingya tersebut.

“Terkait berapa lama mereka di sini, belum bisa kita jawab,” imbuhnya.

Bupati Aceh Utara, Muhammad Thaib melalui website Pemerintah kabupaten Aceh Utara mengatakan, masyarakat Aceh Utara menampung sementara pengungsi etnis Muslim Rohingya karena atas pertimbangan kemanusiaan, dan sesuai dengan petunjuk Perpres Nomor 125 tahun 2016 Tentang Penanganan Pengungsi Dari Luar Negeri.

Disisi lain, Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid mengatakan, izin merapat yang diberikan ke kapal yang mengangkut para pengungsi itu menunjukkan kemenangan solidaritas antar sesama manusia.

“Kabar baik dari Aceh ini sangat melegakan. Ini menunjukkan betapa masyarakat Aceh sangat menjunjung tinggi nilai solidaritas tetapi juga sangat menghormati hak asasi pengungsi Rohingya yang selama ini terabaikan,” kata Usman Hamid dalam keterangan tertulisnya.

Usman mengatakan, pemerintah harus segera memberikan perlindungan secara resmi terhadap puluhan pengungsi tersebut.

“Kita harus ingat, mereka ini adalah kelompok rentan yang diperlakukan secara sadis oleh otoritas di negaranya. Karena itu, pemerintah Indonesia harus segera mengaktifkan kembali dialog regional untuk menyelamatkan pengungsi Rohingya lainnya yang masih berada di lautan,” ujar Usman. (red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *